Perkembangan Islam di Indonesia

 

A. PERKEMBANGAN AJARAN ISLAM DI INDONESIA

Pada tahun 30 Hijriah atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Dalam versi lain disebutkan bahwa suatu golongan Zaidiyah yang pro terhadap Ali ibn Abi Thalib mengungsi dari kerajaan Bani Umayyah karena dikear-kejar, telah bermukim di Cina sebeum tahun 750 M.[1] Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Islam masuk Indonesia bukan dari pedagang India atau Persi tapi langsung dari Arab dan penyiarnya orang Arab Islam. Adapun pengikut-pengikut mereka adalah pedagang-pedagang dari Gujarat yang turut mengambil bagian dalam perdagangan. Daerah di Indonesia yang mula-mula dimasuki Islam adalah Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Jawa Tengah, kemudian lama kelamaan agama Islam masuk ke pelosok tanah air dengan pesatnya.

Beberapa ahli tentang waktu dan daerah yang mula-mula yang dimasuki islam di indonesia antara lain ;

  • Drs. Juned Pariduri

Islam masuk di Sunatra Utara (tapanuli) pada abad ke-7 atau sekitar tahun 670 M, karena ad makam syekh Mukaiddin di Tapanuli, makam tersebut berangka tahun 48 H (670 M)

  • Dr. Hamka

Islam masuk ke Jawa pada abad ke-7 atau sekitar tahun 674 M

  • Zainal Arifin Abbas

Islam masuk di Sumatra Utara pada abad ke-7 sekitar tahun 648 M.[2]

           

Para ahli tersebut berpendapat bahwa Islam masuk di Indonesia pada abad ke-7 berarti pada abad ke-13 islam sudah berkembang dengan pesatnya dan telah merata di seluruh indonesia. Hal ini di tandai dengan adanya penemuan-penemuan batu nisan yang berciri khas Islam. Dari kerajaan samudera Pasai Islam menyebar keseluruh pulau Sumatera, Malaka sampai ke pulau Jawa. Setelah itu di indonesia berdiri kerajaan-kerajaan Islam yang besar (Demak, Banten, Cirebon, Aceh, Mataram, Pajang, Makassar, dan lain-lainnya) dan kemudian menjadi pusat tempat penyebaran Islam.

 

    1. Perkembangan Islam di Sumatera

Islam masuk ke Sumatera pada abad ke-7 Masehi, yang pada waktu itu di Sumatera telah berdiri kerajaan Budha di Sriwijaya (683-1030 M) yang menjadikan Islam masuk ke daerah itu sedikit mengalami kesulitan, dan pada waktu itu kerajaan Sriwijaya mendapat serbuan dari India, maka kesempatan itu digunakan untuk menyebarkan Islam bagi daerah-daerah, seperti di samudera Pasai sehingga berdirilah kerajaan islam yang pertama di Samudera Pasai.

Karena ada beberapa versi sejarah yang berbeda, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam di Sumatera terbagi menadi:

1. Islam di Aceh

a. Kerajaan Perlak

Sultan Perlak adalah Sultan Alaidin Sayid Mauana Abdul Aziz Syah. Ia dilantik pada tanggal 1 Muharram tahun 225 H.                   

b. Samudera Pasai

Silsilah keturunan Malik al-Saleh yang memerintah Samudera Pasai tahun 650-688 H menunukkan bahwa beliau keturunan Raja Islam, yaitu Makhdum Sultan Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat tahun 365-402 H.

c. Keraaan Aceh

Salah seorang pembawa agama Islam di Aceh adalah Syekh Abdullah Arif yang datang dari Arab. Beliau mempunyai murid bernama Burhanuddin yang kemudian menyebarkan ajaran agama Islam di Pariaman, Sumatera Barat.

d. Islam di Barus

Papan Tinggi adalah sebuah pemakaman di Bandar Barus, pantai barat Sumatera Utara. Di salah satu batu nisan terdapat sebuah nama Said Mahmud al-Hadramaut. Selain itu seorang Islam bernama Sulaiman telah sampai di Pulau Nias pada tahun 851 M. Sulaiman menyebutkan Bandar Barus itu penghasil kapur barus dan ia singgah di bandar ini.[3]

e. Islam di Sumatera Timur

Sebuah makam ulama yang bernama Imam Shadiq bin Abdullah wafat 23 Sya’ban 998 H ditemukan di Klumpang, Deli yaitu bekas kerajaan Haru/ Aru.

 

2. Kerajaan Siak

Islam diperkirakan masuk di kerajaan ini pada abad 12 M. Ini dapat terlihat pada peninggalan kuburan bertahun 1128 Masehi yang bercorak Islam, yaitu kuburan Nizamuddin al-Kamil seorang laksamana dari dinasti Fatimiah.[4]      

 

3. Islam Masuk di Sumatera bagian Selatan

Dikisahkan oleh Ibnu Batutah bahwa hubungan dagang antara khalifah Abbasiyah (751-1268 M) dengan Sriwijaya telah berlangsung. Bahkan sebelumnya telah ada pedagang utusan dari khalifah Umayyah (661-750 M), dan banyak pedagang Sriwijaya sendiri yang berlayar k negara-negara Timur Tengah.

     

    2. Perkembangan Islam di Jawa

Islam masuk ke Jawa Tengah pada masa pemerintahan sima pada tahun 674 M, masuknya Islam ke Jaw Timur di tandai dengan adanya makam Fatimah binti Maimun yang di batu nisannya bertuliskan Arab, sekitar tahun 1082 M, dan masuknya islam ke Jawa Barat di siarkan oleh haji Purba pada pemerintahan Mundingsari pada tahun 1190 M. Islam dapat berkembang dengan pesat ketika kerajaan Majapahit (hindu) merosot. Islam diJawa tidak akan pernah lepas dari peranan Walisanga yang begitu gigih dalam menyiarkan islam, sehingga dengan cepat islam berkembang keseluruh Pulau Jawa.

Adapun jasa-jasa Walisongo dalam penyebaran Islam di Jawa adalah menyebarkan Islam kepada penduduk pedalaman pulau Jawa, sebelum Wlisanga , Islam hanya berkembang di daerah pesisir, Wlisanga berhasil mendirikan beberapa kerajaan Islam di Pulau Jawa, yaitu : Demak, Pajang, dan Banten, Walisanga juga berhasil mengubah kesenian Jawa dari pengaruh Hindu menjadi pengaruh Islam.

 

Wali yang mengembangkan Islam di Jawa Tengah

Setelah berdirinya kerajaan islam Demak tahun 1500 M, maka Jawa Tengah meruakan salah satu pusat kegiatan agama islam, adapun wali yang mengembangkan islam di Jawa yaitu :

  • Sunan Gresik

Beliau berasal dari Kasyan Bangsa Arab, kemudian menyiarkan Islam di kota Gresik.

  • Sunan Ampel

Beliau keturunan putri raja Aceh yang menikah dengan seorang penyiar Islam dari Arab. Beliau menyiarkan Islam di Ampel dan Surabaya

  • Sunan Bonang

Membentuk kader-kader islam dengan mendirikan pondok pesantren.

  • Sunan Drajat

Beliau mnyiarkan Islam di Sedayu, Jawa Timur.

  • Sunan Kalijaga

Mengajarkan Islam dengan memasukan hikayat islam kedalam cerita wayang yang di pertunjukkan untuk rakyat

  • Sunan Giri

Beliau belajar Islam di Malaka selama tiga taun, kemudian menyebarkan Islam di Giri (dekat Gresik)

  • Sunan Muria

Beliau adalah putra dari sunnan kalijaga yang menikah derngan Dewi Sujinah dan mempunyai seorang outra yang bernam Pangeran Santri. Untuk kepentingan dakwahnya Dia menciptakan lagu “Sinom dan Kinanthi”

 

  • Sunan Kudus

Mengajarkan islam dengan cara memperdalam agama dan mengkikis habis pengaruh Hindu

  • Sunan Gunung Jati

Beliau belajar Islam di Meka. Menyiarkan Islam yang brpusat di Gunung Jati.

 

    3. Perkembangan Islam di Sulawesi

Islam di Sulawesi tidak sebaik Islam di Jawa dan Sumatra, cara pengIslaman di Sulawesi pun dilakukan dengan jalan damai, tidak ada kekerasan sama sekali. Adapun yang menyiarkan Islam di Sulawesi adalah Datuk Ribandang dan Datuk Sulaiman.

Di wilayah Sulawesi Utara mulai dari Mandar sampai Manado pada pertengahan abad ke -16 menjadi bawahan Kerajaan Ternate yang rajanya adalah seorang Muslim. Atas ajakan raja Ternate, raja Bolaang Mongondow memeluk Islam. Terus ke timur di kepulauan Maluku pada mula abad ke-16 telah memiliki kerajaan Islam yakni Kerajaan Bacan. Muballigh dari kerajaan Ini terus mendakwahkan Islam ke kawasan tetangganya di Papua melalui jalur perdagangan.

 

    4. Perkembangan Islam di Kalimantan

Sekitar tahun 1550 di Banjar berdiri kerajaan Islam dengan rajanya bergelar Sultan Suryanullah dan pada saat itu juga banyak rakyat Banjar yang memeluk agama islam begitu pula dengan daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Banja

            Pengembangan Islam di Kutai dilakukan oleh dua orang muslim dari makassar  yang bernama Tuan di Bandang dan Tuan Tunggang Parangan, dengan cepat islam berkembang di Kutai, termasuk raja mahkota memeluk islam. Kemudian pengembangan islam dilanjutkan ke daerah-daerah pedalaman pada pemerintahan Aji di Langgar. Pada tahun 1550 M, di Sukadan (Kalimantan Barat) telah berdiri kerajaan islam. Ini berarti jauh sebelum tahun itu rakyat telah memeluk agama islam, Adapun yang meng-islamkan daerah Sukadana adalah orang Arab islam yang datang dari Sriwijaya. Di Sukadana Sultan yang masuk islam adalah Panembahan Giri Kusuma (1591) dan Sultan Hammad Saifuddin (1677).

            Sebelum islam masuk ke Dayak, suku Dayak menyembah berhala,tapi lama-kelamaan kebanyakan dari mereka memeluk islam. Peng-Islaman di Dayak melalui jalan perdagangan, pernikahan, dan dakwah, penyiaran Islam di Dayak dilakukan oleh pendatang dari Arab, Bugis, dan Melayu. Perkembangan Islam selanjutnya diteruskan oleh keturunan-keturunan mereka dengan penuh semangat.

 

    5. Perkembangan Islam di Irian Jaya

Masuknya Islam ke Papua, tidak bisa dilepaskan dengan jalur dan hubungan daerah ini dengan daerah lain di Indonesia. Selain faktor pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit, masuknya Islam ke kawasan ini adalah lewat Maluku, di mana pada masa itu terdapat kerajaan Islam berpengaruh di kawasan Indonesia Timur, yakni kerajaan Bacan. Bahkan keberadaan Islam Bacan di Maluku sejak tahun 1520 M dan telah menguasai beberapa daerah di Papua pada abad 16 telah tercatat dalam sejarah. Sejumlah daerah seperti Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati pada abad 16 telah mendapat pengaruh dari ajaran Islam. Melalui pengaruh Sultan Bacan inilah maka sejumlah pemuka masyarakat di pulau-pulau tadi memeluk agama Islam, khususnya yang di wilayah pesisir. Sementara yang dipedalaman masih tetap menganut faham animisme.

Masuknya Islam ke daerah Papua terjadi pada awal abad ke 17, atau dua abad lebih awal dari masuknya agama Kristen Protestan yang masuk pertama kali di daerah Manokwari pada tahun 1855, yaitu ketika dua orang missionaris Jerman bernama C.W. Ottow dan G.J. Geissler mendarat dan kemudian menjadi pelopor kegiatan missionaris di sana.

 

 

B. PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN KEBUDAYAAN

 

            Perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Indonesia pada masa perkembangan agama islam, yaitu berupa warisan seni dan ilmu pengetahuan yang merupakan ungkapan penghayatan sekaligus saluran pewartaan atau penyiaran ajaran islam. Karya seni yang bercorak islam terdapat di bidang bangunan, seni musik, seni pahat lukis, seni kaligrafi, dan seni sastra.

            Peninggalan yang paling jelas di bidang bangunan atau arsitektur adalah bangunan masjid. Masjid-masjid yang berasal dari masa pertumbuhan dan perkembangan Islam di nusantara antara lain masjid kuno di Demak, masjid Sendang Duwur Agung Kasepuhan di Cirebon, masjid Agung di Banten, dan masjid Nanggroe Aceh Darussalam

            Peninggalan berikutnya di bidang bangunan adalah keraton, di lihat dari corak bangunannya, tampak bahwa keraton pada masa pertumbuhan agama islam merupakan perpaduan antara corak seni Hindu, Islam, dan masyarakat setempat, dari perpaduan ini menghasilkan corak bangunan yang khas.

            Peninggalan selanjutnya adalah makam. Bagian makam yang paling penting adalah nisan karena nisan merupakan tanda peringatan yang utama. Dari nisan sebuah makam dapatkita ketahui siapa yang meninggal dan kapan meninggalnya. Oleh karena itu pada nisan aka di jumpai huruf atau angka . Nisan ada yang di buat dengan ukir-ukiran dan dihiasi dengan tulisan Arab atau kaligrafi. Dengan demikian pada masa ini telah berkembang ilmu pengetahuan tentang tulis-menulis Arab (kaligrafi)

            Peninggalan seni musik terungkap dari tradisi sekaten, yaitu gamelan yang dibunyikan pada perayaan gerebeg maulid Nabi Muhammad saw. Tradisi ini masih terjaga dengan baik pada Keraton Yogyakarta.

            Perkembangan seni pahat dapat di lihat dari ukir-ukiran yang terdapat pada lengkungan dan gerbang masjid, keraton, atau pada nisan. Seni pahat yang berkembang pada masa perkembangan islam tidak ada yang berupa patung-patung karena hal itu bertentangan dengan ajaran islam.

            Peninggalan ilmu pengetahuan dan budaya pada bidang sastra adalah berupa hikayat, babad, dan syair yang tertulis dengan huruf daerah, ada juga yang menggunakan huruf arab. Naskah-naskah yang terkenal antara lain primbon-primbon abad ke-16  dari sunan Bonang dan syair-syair melayu yang indah dari Hamzah Fansuri.

 

 

C. PERANAN UMAT ISLAM DALAM KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA

           

Selama berabad-abad Indonesia mengalami penjajahan. Kekayaan alam yang melimpah ruah jatuh ke tangan penjaah. Bukan hanya menaah politik dan ekonomi bangsa, tetapi juga menajajah hak asasi yang paling mendasar bagi ummat Islam, yaitu menajajah paham-paham agama Islam untuk ditukar dengan paham Komunisme, Liberalisme, dan agama lain.

Atas dasar penindasan tersebut, semangat jihad mulai dikobarkan. Pada abad ke-17 sampai 19 prlawanan umat Islam sudah nyata digerakkan dan di pelopori tokoh-tokoh pahlawan Islam, seperti Sultan Agung (Mataram), Sultan Agung Tirtayarsa dan Kyai Tapa (Bantn), Sultan Hasanuddin (Makassar), Teukeu Cik Ditiro (Aceh), Teuku Imam Bonjol (Minangkabau), dan para kyai di seluruh pondok pesantren.

Pada waktu Indonesia memproklamirkan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, musuh-musuh masih berusaha menggagalkan arti dari proklamasi tersebut. Untuk itu, Rois Akbar, K.H. Hasyim Asy’ari menyerukan resolusi jihad. Tercetusnya resolusi jihad membuat para pemuda dikala itu menggabungkan diri ke dalam pasukan Hizbullah yang dipimpin oleh Zainal Arifin. Kemudian orang Islam yang awam bergabung ke dalam barisan Sabilillah dibawah pimpinan K.H. Wahab Hasbullah. Pada waktu revolusi 1945-1949, mereka menjadi pengawal revolusi dengan merebut persenjataan Jepang untuk melawan agresi sekutu.

Namun sangat disayangkan, begitu besarnya kebencian penjajah kepada muslimin di Indonesia. Snouck Hurgronje, penasihat pemerintah kolonial Belanda menyampaikan sarannya kepada pemerintah kolonial Belanda (Dutch Islamic Policy) dengan tujuan mematahkan perlawanan ummat Islam. Antara lain Snouck Hurgronje menyarankan. “Yang harus ditakuti pemerintah (maksudnya pemerintah Belanda, pen) bukanlah Islam sebagai agama, tetapi Islam sebagai doktrin politik. Biasanya dipimpin small-minority yang fanatik, yakni ulama yang membaktikan hidupnya terhadap cita-cita Pan Islamisme. Golongan ulama ini lebih berbahaya kalau pengaruhnya meluas kepada petani di desa-desa. Karena itu disarankan supaya pemerintah bertindak netral terhadap Islam sebagai agama dan sebaliknya bertindak tegas terhadap Islam sebagai doktrin politik.”

Maka para penjajah berhasil melakukan strategi dalam pembuatan naskah UUD 1945. Ketika para pendiri Republik ini berhasil merumuskan satu gentlement agreement yang sangat luhur dan disepakati pada tanggal 22 Juni 1945 kemudian dikenal sebagai Piagam Jakarta (Jakarta Charter). Sesungguhnya Piagam Jakarta inilah mukaddimah UUD ’45 yang pertama.

Selanjutnya tanggal 17 Agustus 1945 pada hari Jum’at dan bulan Ramadhan, Indonesia lahir sebagai negara dan bangsa yang merdeka. Hendaknya disadari oleh setiap muslim bahwa Republik yang lahir itu adalah sebuah negara yang “berdasarkan ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari ‘at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
Namun keesokan harinya tanggal 18 Agustus rangkaian kalimat “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, itu dihapus, diganti dengan kalimat: yang maha esa. Inilah awal pengkhianatan terhadap Islam dan ummat Islam. [5]

            Dinamika zaman terus berjalan, kini umat Islam Indonesia menjadi umat yang mayoritas, yaitu 90% dari semua bangsanya, yang seharusnya memiliki arti penting dalam maju mundurnya kehidupan bangsa ini, sebab umat islam mempunyai peranan yang sangat penting dalam usaha mempersatukan bangsa, disini terdapat beberapa peranan penting umat islam dalam berbangsa:

Pada tahun 1960, umat islam berusaha mencegah gagasan nasakom dan pada tahun 1965 mengusulkan pembubaran PKI untuk menyelamatkan pancasila dan kesatuan bangsa

Mempelopori penbentukan “front Pancasila” yang kemudian diteruskan dengan penganiyayan G30SPKI sebagai landasan lahirnya Orde Baru.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) didirikan sehubungan dengan tugasnya yang utama, yaitu memberikan pertimbangan mengenai kehidupan beragama kepada pemerintah dan menjadi penghubung antara pemerintah dengan ulama

Untuk memperkuat ideologi Pancasila, umat islam memajukan pendidikan umum dan pendidikan agama dalam mencerdaskan bangsa dan kesadaran bernegara serta memperkokoh persatuan dan kesatuan

            Namun untuk mencapai kesatuan dan kemajuan, umat Islam membentuk lembaga-lembaga, baik berupa organisasi sosial maupun lembaga-lembaga pendidikan, seperti :

*      Majelis Ulama Indonesia.

MUI didirikan pada tanggal 26 Juli 1975, pertama kali diketuai oleh Prof. Dr. Hamka, hingga tahun 1981, kemudian diketuai oleh K.H Syukri Ghozali, setelah beliau wafat digantikan oleh K.H Hasan Basri, dan sekarang dipimpin oleh K.H Umar Shihab

Tujuan utama dari MUI adalah “ menjadi penerjemah serta menyampaikan pikiran-pikiran dan kegiatan pembangunan nasional dan daerah kepada masyarakat

*      Nahdlatul Ulama (NU)

Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan “Kebangkitan Nasional“. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana – setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan. Organisasi Nahdlatul Ulama ini bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah, terutama dalam pembinaan pesantren-pesantren di berbagai daerah di Indonesia.

*      Muhammadiyah

Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 November 1912. Organisasi ini bergerak dalam bidang pendidikan dan kemasyarakatan.

*      Organisasi Mahasiswa Islam

Organisasi mahasiswa islam berkembang sesuai dengan semakin majunya dunia perguruan tinggi dan semakin banyaknya generasi islam dari golongan terpelajar, mereka menghimpun diri dalam wadah organisasi mahasiswa, di antaranya sebagai berikut :

1.      Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

2.      Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam berdiri pada tanggal 05 Februari 1947 (14 Rabiul awal 1366 H) di Jogjakarta oleh Lafran Paile. Organisasi ini bergerak dalam bidang politik, yang mempunyai tujuan utama, yaitu :”Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab kepada masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah.

3.      Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

4.      KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia)

Organisasi mahasiswa muslim yang lahir di era reformasi yaitu tepatnya KAMMI lahir para ahad tanggal 29 Maret 1998 PK.13.00 wib atau bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah 1418 H yang dituangkan dalam naskah Deklarasi Malang.

Anggotanya tersebar di hampir seluruh PTN/PTS di Indonesia. Selain itu, memiliki cabang juga di Jepang. KAMMI muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif Mahasiswa yang berbasis mahasiswa Muslim dengan mengambil momentum pada pelaksanaan Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X se-Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

*      Organisasi Pelajar Islam

1.      PII (Pelajar Islam Indonesia)

Sebuah organisasi Islam yang didirikan di kota Yogyakarta pada tanggal 4 Mei 1947. Para pendirinya adalah Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Amien Syahri dan Ibrahim Zarkasji.

2.      IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah)

3.      IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama)

4.      IPPNU (Ikatan Putri Nahdlatul Ulama)

5.      KAPMI (Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia)

*      Organisasi Islam yang lain

1.      GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam)

2.      MDI (Majelis Dakwah Islamiyah)

3.      MMI (Majelis Muslimin Indonesia)

4.      GP. Anshar, IPM, Pemuda Muslim

5.      HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam)

6.      HTI (Hizbut Tahrir Indonesia)

Hizbut Tahrir merupakan organisasi politik, bukan organisasi kerohanian (seperti tarekat), bukan lembaga ilmiah (seperti lembaga studi agama atau badan penelitian), bukan lembaga pendidikan (akademis), dan bukan pula lembaga sosial (yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan). Politik yang diemban Hizbut Tahrir adalah politik syar’iyah yaitu pelayanan terhadap ummat. Syekh Taqiyyuddin An Nabhani adalah pendiri Hizbut Tahrir. Pendirian Hizbut Tahrir didasarkan pada QS Ali ‘Imran ayat 104, yanga berbunyi “Dan hendaklah ada diantara kamu, segolongan umat yang menyeru kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

7.      FPI (Front Pembela Islam)

FPI dideklarasikan pada 17 Agustus 1998 (atau 24 Rabiuts Tsani 1419 H) di halaman Pondok Pesantren Al Um, Kampung Utan, Ciputat, di Selatan Jakarta oleh sejumlah Habaib, Ulama, Mubaligh dan Aktivis Muslim dan disaksikan ratusan santri yang berasal dari daerah Jabotabek.

Organisasi ini dibentuk dengan tujuan menjadi wadah kerja sama antara ulama dan umat dalam menegakkan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar di setiap aspek kehidupan.

Latar belakang pendirian FPI sebagaimana diklaim oleh organisasi tersebut antara lain:

Adanya penderitaan panjang ummat Islam di Indonesia karena lemahnya kontrol sosial penguasa sipil maupun militer akibat banyaknya pelanggaran HAM yang dilakukan oleh oknum penguasa. Adanya kemungkaran dan kemaksiatan yang semakin merajalela di seluruh sektor kehidupan. Adanya kewajiban untuk menjaga dan mempertahankan harkat dan martabat Islam serta ummat Islam.

8.      Ikhwanul Muslimin

Ikhwanul Muslimin masuk ke Indonesia melalui jamaah haji dan kaum pendatang Arab sekitar tahun 1930. Pada zaman kemerdekaan, Agus Salim pergi ke Mesir dan mencari dukungan kemerdekaan. Waktu itu, Agus Salim menyempatkan untuk bertemu kepada sejumlah delegasi Indonesia, termasuk Agus Salim.

Ikhwanul Muslimin memiliki peran penting dalam proses kemerdekaan Republik Indonesia. Atas desakan Ikhwanul Muslimin, negara Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia, setelah dijajah oleh Belanda. Dengan demikian, lengkaplah syarat-syarat sebuah negara berdaulat bagi Republik Indonesia.

Ikhwanul Muslimin kemudian semakin berkembang di Indonesia setelah Muhammad Natsir mendirikan partai yang memakai ajaran Ikhwanul Muslimin, yaitu Partai Masyumi.

9.      Persatuan Ummat Islam (PUI)

Organisasi massa Islam di Indonesia yang lahir pada 5 April 1952 di Bogor. Ia lahir dalam kondisi di mana kebanyakan organisasi di Indonesia kala itu cenderung terpecah belah. PUI lahir sebagai hasil fusi dua organisasi besar kala itu. Yaitu Perikatan Ummat Islam (PUI) pimpinan KH Abdul Halim, yang berpusat di Majalengka, dengan Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII) pimpinan KH Ahmad Sanusi, yang berpusat di Sukabumi. Ormas hasil fusi ini kemudian melakukan kegiatannya di sejumlah bidang, yaitu pendidikan, sosial, kesehatan masyarakat, ekonomi dan dakwah. Bahkan ormas ini sekarang telah merintis kegiatan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Sekarang diketuai oleh Ustadz Ahmad Heryawan, Lc.

10.  Hidayatullah

Lahir pada saat umat Islam sedang menantikan datangnya abad XV H yang diyakini sebagai abad Kebangkitan Islam. Tema pokoknya pada saat itu adalah “Back to Qur’an and Sunnah”. Hidayatullah adalah sebuah gerakan pemikiran yang mencoba menerjemahkan slogan tersebut secara lebih konkrit sehingga al-Qur’an dan as-Sunnah menjadi ‘blue print’ pengembangan peradaban Islami.

Hidayatullah didirikan pada tanggal 7 Januari 1973/2 Dzulhijjah 1392 Hijr di Balikpapan dalam bentuk sebuah pesantren oleh Ust. Abdullah Said (alm), kemudian berkembang dengan berbagai amal usaha di bidang sosial, dakwah, pendidikan dan ekonomi serta menyebar ke berbagai daerah di seluruh provinsi di Indonesia. Melalui Musyawarah Nasional I pada tanggal 9–13 Juli 2000 di Balikpapan, Hidayatullah mengubah bentuk organisasinya menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas) dan menyatakan diri sebagai gerakan perjuangan Islam.

11.  Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)

Muktamar

Tanggal

Ketua terpilih

Periode

Muktamar I

6-8 Desember 1990 di Kota Malang

Baharuddin Jusuf Habibie

1990-1995

Muktamar II

7-9 Desember 1995 di Jakarta

Baharuddin Jusuf Habibie

1995-2000

Muktamar III

9-12 November 2000 di Jakarta

Adi Sasono

2000-2005

Muktamar IV

4-7 Desember 2005 di Makassar

Marwah Daud Ibrahim (Presidium)

Nanat Fatah Natsir (Presidium)

M. Hatta Rajasa (Presidium)

Muslimin Nasution (Presidium)

Azyumardi Azra (Presidium)

2005-2006

2006-2007


[1] Muhammad Syamsu As., Ulama Pembawa Isam di Indonesia, (Jakarta: Lentera, 1999), hlm.4.

[2] Aminuddin, dkk., Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm. 186-187.

[3] Dada Meuraxa, Sejarah Masuknya Islam di Bandar Barus, Sumatera Utara, (Medan: Sasterawan, 1973), hlm. 28-29.

[4] Suwardi Mohammad Samin dkk, Peranan Kerajaan Siak dalam Sejarah Nasional Indonesia, (Pekan Baru: Universitas Riau,1970), hlm. 41-42.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: